Wanita

Rumah Seribu Malaikat Bu Yuli, Selamatkan Hidup Puluhan Anak Terlantar

Endang Yuli Purwati
Endang Yuli Purwati. (tribunnews)

Suryakata.id – Banyak orang yang prihatin melihat anak-anak terlantar yang hidup dengan mengemis di jalanan. Banyak pula yang hanyamerasa kasihan ketika melihat atau membaca berita tentang bayi yang dibuang orangtuanya. Namun berbeda dengan Endang Bu Yuli Purwati. Guru agama Islam SMA Negeri 4 Bandung ini bergerak untuk membantu anak-anak yang kurang beruntuk karena dibuang orang tuanya dengan merawat mereka bagaikan anak sendiri.

Keheningan sore itu dipecahkan oleh tangis bayi laki-laki dari dalam boks bayi. Dengan sigap, seorang perempuan paruh baya lekas mengangkat sang bayi dan meminumkannya susu formula dari dalam botol dot. Sesekali perempuan itu menoleh dan tersenyum, sambil menggendong bayi tersebut di ayunan tangannya.

“Bayi laki-laki itu baru berusia satu bulan. Sejak sehari dilahirkan di Jember, ia sudah dibawa kemari. Ibunya dihamili entah oleh siapa,” ujar Endang Bu Yuli Purwati, yang mengasuh bayi tersebut.

Ternyata, rumah berlantai 2 di kawasan Kompleks Kopo Permai I Blok M No.8, RT 2 RW 1, Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung itu menyimpan sejarah anak-anak yang memiliki nasib memilukan.

Wanita yang akrap disapa Bu Yuli ini, sehari-hari berprofesi sebagai guru agama Islam di SMAN 4 Bandung. Sejak tahun 2004, Bu Yuli dan suaminya, Bardawi, dengan gigih memberikan kasih sayang kepada para bayi yang dititipkan di rumahnya tersebut, layaknya anak sendiri.

“Bayi-bayi yang dititipkan di sini kebanyakan bayi yang dititipkan oleh keluarganya. Biasanya orangtua sang bayi adalah korban kekerasan seksual, atau korban kekerasan dalam rumah tangga. Ada juga bayi yang diberikan begitu saja lantaran orangtuanya tak sanggup membiayai,” ujarnya.

Semakin hari, rumahnya semakin dipenuhi bayi. Wajah-wajah lucu dan menggemaskan itu selalu membuat Bu Yuli tak menyangka, bagaimana bisa anak selucu mereka harus memiliki sejarah yang pahit.

Sejak tahun 2004 hingga 2015, tercatat sudah lebih dari 20 bayi yang diasuh di tempatnya tersebut. Beberapa bayi yang sudah beranjak anak-anak, ada yang dipertemukan kembali dengan keluarganya.

“Tidak jarang, kakek nenek dari bayi tersebut menitipkannya pada kami untuk dibesarkan. Beberapa di antara anak ini memiliki ibu yang jadi korban hamil di luar nikah. Ada pula yang ketika hamil ditinggalkan begitu saja oleh bapaknya. Dan ada juga yang ibunya stres karena korban pemerkosaan jadi tidak sanggup mengasuh sang bayi,” kisahnya.

Meski kesehariannya sebagai guru kerap membuatnya sibuk, tak sedikit pun Bu Yuli menampakkan perbedaan kasih sayang antara anak-anak yang diasuhnya dengan anak kandungnya. Baginya, semua anak yang tinggal di rumahnya adalah anaknya.

“Saya selalu menekankan pada anak kandung saya bahwa anak-anak yang diasuh di rumah ini adalah adik-adik mereka, yang harus mereka asuh dan mereka sayangi layaknya saudara kandung. ‘Semua anak di sini adalah anak Umi’. Itu yang selalu saya ucapkan,” tutur wanita yang memiliki empat orang anak ini.

Dalam merawat bayi tersebut, tak sepeser pun Bu Yuli meminta dana titipan atau santunan dari donatur lain. “Kami bukan panti asuhan atau lembaga lainnya. Makanya di rumah kami tidak ada plang nama atau sebagainya,” tegas Bu Yuli.

Saat pertama kali ingin mengasuh anak-anak yang kurang beruntung itu, Bu Yuli selalu diingatkan oleh suaminya ada tiga hal penting yang tidak boleh dilanggarnya. Pertama, dia tidak boleh mengeluh. Kedua, tidak boleh membeda-bedakan kasih sayangnya terhadap anak asuh dan anak kandung. Ketiga, tidak boleh meminta-minta sumbangan.

“Saya diizinkan suami mengasuh mereka semua dengan tiga syarat tersebut. Dan, hingga kini, alhamdulillah rezeki selalu mengalir pada anak-anak yang kami asuh, tanpa kami meminta-minta pada orang lain,” terangnya.

Rumah tersebut hingga kini selalu dipenuhi gelak tawa bayi yang kini beranjak jadi anak-anak. Sesekali terlihat pemandangan, anak-anak tersebut bergembira nyanyi dan tertawa ria. Pun di halaman rumah, tertata lebih dari tujuh sepeda anak untuk mereka gunakan. Tak ada raut wajah sedih, serba kekurangan, dan kemurungan di wajah mereka.

Related posts
MahasiswaWanita

Mengenal Sosok Professor Perempuan Pertama di Indonesia

KemasyarakatanKepemudaanWanita

Ada apa tanggal 1 Mei? Siapa itu buruh?

KemasyarakatanWanita

Mengenang Marsinah, Pahlawan Buruh Era Orde Baru

KemasyarakatanWanita

Ibu Ai Bina 200 Anak Didik di Rumah Singgahnya