MahasiswaPelajar

Peduli Anak Jalanan Bersama KPAJ Makassar

Suasana belajar dan mengajar KPAJ (28/08/2019). sumber: redaksi suryakata.id

Ibrahim Halim, mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, saat ini menjabat sebagai Ketua Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) Kota Makassar periode 2019-2020. Ibrahim yang lebih akrab disapa dengan Iber ini terlibat di KPAJ sejak tahun 2017. Ia mengenal KPAJ melalui teman kuliah dan mencari informasi terkait KPAJ dengan mengikuti kegiatan rekruitasi relawan angkatan ke IV. Komunitas KPAJ diinisiasi oleh Ahmad Yani, seorang pemuda yang berasal dari satu kampus yang sama dengan Iber. 

KPAJ berdiri sejak 28 Juli 2012. Komunitas yang sudah berdiri selama 7 tahun ini lahir dari rasa keperihatinan yang kemudian tumbuh menjadi rasa peduli berbagi untuk anak jalanan di Kota Makassar. Saat itu, Ahmad Yani melihat langsung anak-anak jalanan di Jl. Urip Sumoharjo (fly over) yang menjual sebuah produk dan menawarkan dagangannya, menggores kendaraan yang melintas apabila dagangannya tidak digubris. Atas kejadian tersebut, Ahmad Yani tergerak untuk melakukan pembenahan dan pembinaan anak-anak jalanan agar kedepannya kejadian tersebut tidak terjadi lagi.

Diawal pembentukan KPAJ, yang ikut serta dalam perkumpulan ini hanya teman-teman dari Ahmad Yani. Kegiatannya, memberikan makanan bergizi dan pakaian layak pakai untuk anak-anak jalanan. Namun ketika komunitas ini akan berjalanan dengan beberapa program, KPAJ sempat medapatkan respon keras dari orang tua anak-anak jalanan tersebut. Alasannya, mereka tidak ingin anak-anak mereka yang menjual atau memulung, berhenti untuk bekerja dan lebih memilih belajar. Akan tetapi selang beberapa waktu, pengurus KPAJ terus melakukan pendekatan kepada para orang tua anak jalanan tersebut. Sehingga saat ini, kegiatan-kegiatan KPAJ telah mendapatkan respon positif dari mereka. Kini para orang tua anak jalanan berharap, agar KPAJ mampu mengubah dan menuntun anak mereka menjadi lebih baik.

Dimulai dari gerakan berbasis perkumpulan saja, tahun 2014, KPAJ mulai membentuk struktur pengurus secara formal. Sebelum menjadi pengurus, yang berminat bergabung akan dididik menjadi relawan terlebih dahulu.

Kini KPAJ memiliki relawan aktif disetiap area binaan sebanyak 20 orang. Adapun area binaan komunitas KPAJ adalah 8 area binaan, dengan rincian area sebagai berikut: Telkomas, Unhas, Btn Hamzy, Adhyaksa, Fly Over, Kerung-kerung, Manggala, dan Hertasning (Sekolah Mentari). Anak-anak binaan terbanyak berada di area binaan Kerung-kerung yang berjumlah 80 orang anak. Setiap tahun, anggota yang bertambah terus meningkat.

Meski sudah menginspirasi selama tujuh tahun, komunitas ini masih disandung banyak tantangan. Diantaranya, rawannya area binaan yang tergusur dikarenakan area binaan tersebut menempati lokasi tanah yang notabene milik orang lain dan sulitnya mengajak anak-anak jalanan untuk ikut belajar dan dibina oleh KPAJ karena biasanya anak-anak tersebut lebih memilih mencari uang (memulung) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketimbang belajar. 

Biasanya, agar anak-anak tersebut berminat ikut belajar bersama KPAJ, para relawan akan memberikan bingkisan-bingkisan kecil sebagai pemicu minat belajar mereka. Akan tetapi ketika hubungan antara KPAJ dengan anak jalanan sudah dekat, maka cara atau metode tersebut tidak digunakan lagi karena ditakutkan menjadi kebiasaan atau ketergantungan.

Nyatanya, usaha para anggota KPAJ berbuah hasil. Suatu ketika, seorang anak yang setiap malamnya selalu memulung, kini sudah mulai tampak perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah anak-anak tersebut mulai membuat usaha kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sambil tetap melanjutkan pendidikannya.

Salah satunya Aldi. Anak asuh dari KPAJ yang biasa menjual manisan di depan Pertamina, kini ia berjualan sambil membawa buku bacaan. Disela-sela waktu istirahatnya, Aldi menyempatkan diri untuk membaca buku. Dilain kesempatan, ada juga salah satu anak asuh KPAJ yang mejuarai lomba tahfidz qur’an.

Namun untuk tahun ini, KPAJ terus memfokuskan anak-anak binaannya agar tidak putus sekolah. Biasanya pengurus dan anggota KPAJ memberikan dukungan berupa kelengkapan seragam sekolah dan ATK. KPAJ juga lebih mengutamakan pendidikan agama anak-anak terlebih dahulu yang kemudian berlanjut pada pendidikan umum dan sebagainya.

Anak-anak binaan Komunitas Peduli Anak Jalanan (KPAJ) Makassar (28/08/2019). Sumber: redaksi suryakata.id

KPAJ juga menjalin hubungan dengan pemerintah atau instansi terkait. Dalam hal ini KPAJ menggandeng Kementerian Sosial/Dinas Sosial Kota Makassar yang memiliki wewenang untuk membina anak jalanan. Dinas Sosial Makassar sangat mendukung kegiatan KPAJ, respon dari Dinas Sosial Kota Makassar meminta komunitas sosial agar menyampaikan apa saja yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan yang dilakukan.

KPAJ juga menyampaikan problema terkait anak jalanan ini kepada Dinas Sosial. KPAJ menumakan bahwa ternyata anak-anak jalanan yang tersebar di titik-titik kota Makasar ini tidak memiliki data kependudukan di Kota Makassar karena ternyata mereka merupakan pendatang dari daerah lain.

Setelah penuturan panjang mengenai KPAJ disampaikan Iber, ketua KPAJ tahun ini, ia berharap agar anggota relawan dan pengurus KPAJ bisa menjaga semangat untuk membina anak-anak jalanan kedepannya. Dikarenakan agar tidak ada lagi anak jalanan yang putus sekolah dan melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Ia juga berharap agar adik-adik anak jalanan semakin semangat untuk belajar dan mengikuti kegiatan KPAJ.

Cara masyarakat luar walaupun tidak termasuk di komunitas KPAJ dapat berkontribusi dari segi materil maupun non materil. KPAJ selalu membuka peluang agar masyarakat bisa juga melakukan pendekatan langsung kepada anak-anak jalanan yang dibina KPAJ. Adapun bantuan yang ingin diberikan secara materil, KPAJ membuka jalan untuk masyarakat luas untuk berdonasi melalui program donasi harian ataupun donasi bulanan tetap yang dimiliki oleh KPAJ. Akses info lebih lanjut dari KPAJ bisa akses di media sosial Facebook dan Instagram yang dimiliki KPAJ.

Related posts
MahasiswaOpiniPelajar

Menjadi Peka Sosial dengan Aktif Berorganisasi

MahasiswaWanita

Mengenal Sosok Professor Perempuan Pertama di Indonesia

KepemudaanMahasiswaPelajar

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah gandeng MICTA Selenggarakan Forum Agriteknologi

KepemudaanPelajar

Anti Bucin Club, Movement Aidil untuk Ajak Pemuda lebih Produktif