KemasyarakatanWanita

Mengenang Marsinah, Pahlawan Buruh Era Orde Baru

Marsinah adalah seorang aktivis buruh pabrik Jaman Orde Baru / twitter.com

Suryakata.id – Hari Buruh di Indonesia rasanya tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang Marsinah. Wanita 24 tahun yang ditemukan tewas ketika memimpin perjuangan buruh di pabrik tempatnya bekerja didaerah Jawa Timur. Tersangka pembunuhannya juga kian suram. Seolah-olah negara tak perlu melindungi hak hidup warganya, tapi justru berwenang merecoki hajat hidup mereka.

Marsinah bekerja di PT Catur Putera Surya (CPS) yang berlokasi di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, perusahaan tempatnya bekerja membandel dan menolak untuk menaikkan upah buruh sesuai dengan surat edaran Gubernur Jawa Timur No. 50/Th. 1992. Isi dari surat tersebut berupa himbauan kepada pengusaha untuk menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan kenaikan gaji sebesar 20 persen gaji pokok.

Karena itu, bersama rekan buruhnya yang lain dia membahas terkait surat edaran ini dan menuntut perusahaannya untuk memenuhi hak mereka. Akhrinya, karyawan PT CPS berunjuk rasa pada tanggal 3 dan 4 Mei 1993 untuk menuntut kenaikan upah dari Rp 1.700,00 menjadi Rp 2.250,00. Karena gerakan buruh ini, sebanyak 13 orang buruh PT CPS diciduk militer. Mereka dianggap menghasut sehingga terjadi unjuk rasa dan digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo.

Mendengar ini, Marsinah langsung mengunjungi markas untuk mengetahui keadaan rekan-rekannya. Namun, sejak itu dia tak kembali dan diketahui menghilang sekitar pukul 22:00. Rekan-rekan Marsinah kelimpungan mencarinya. Perempuan berusia 24 tahun ini sama sekali tak terdengar kabarnya. Akhirnya mereka menemukan Marsinah, dalam kondisi sudah menjadi mayat. Jasadnya terbujur kaku di sebuah hutan yang berlokasi di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan Nganjuk.

Satu bulan sebelum Marsinah dibunuh, Presiden Soeharto menghadiri pertemuan Hak Asasi Manusia di Thailand. Dalam forum itu, Soeharto menyatakan RUU Hak Asasi Manusia yang dicanangkan PBB tidak bisa diterapkan di negara-negara Asia. Jenderal tangan besi itu menjelaskan, di Asia warga tak bisa bebas mengkritik pemimpinnya, beda dengan budaya Barat.

Pada 3 Mei 1995, Mahkamah Agung (MA) memvonis bahwa sembilan terdakwa tak terbukti melakukan perencanaan dan membunuh Marsinah. Sembilan orang yang sebelumnya ditetapkan terdakwa akhirnya dibebaskan, tapi siapa pembunuh Marsinah hingga kini tak pernah diungkap pengadilan. “Persidangan dimaksudkan untuk mengaburkan militer tanggung jawab atas pembunuhan itu,” tulis Amnesty Internasional dalam laporannya, Indonesia: Kekuasaan dan Impunitas: Hak Asasi Manusia di bawah Orde Baru.

Walaupun sudah tiada, hingga kini nama besar Marsinah ada di mana-mana. Dia menyelinap di berbagai produk payung hukum bagi hak buruh. Dalam putusan MK dan pengadilan, nama Marsinah kerap disebut. Misalnya dalam putusan 100/PUU-X/2012, Margarito Kamis menjelaskan bagaimana Marsinah menjadi tolak ukur bahwa buruh harus dilindungi. Kisah Marsinah kemudian diangkat menjadi sebuah film oleh Slamet Rahardjo, dengan judul Marsinah (Cry Justice).

Related posts
KemasyarakatanLipsus Kolaborasi

Membumikan Risalah Pencerahan, AMM Kabupaten Bandung gelar Spirit Of Ramadhan

MahasiswaWanita

Mengenal Sosok Professor Perempuan Pertama di Indonesia

KemasyarakatanKepemudaanWanita

Ada apa tanggal 1 Mei? Siapa itu buruh?

KemasyarakatanKepemudaan

Belajar dari Bill Gates, Jadi Buruh untuk Dirikan Microsoft