Opini

Mengenal Kuntowijoyo dan Pemikirannya

Mendaraskan lagi pemikiran Kuntowijoyo, bagi sebagian orang mungkin sudah mengenal Kuntowijoyo, seorang akademisi sosial, cendikiawan Muhammadiyah, sastrawan, dan sekaligus juga budayawan. Karya-karyanya menarik, ia membahas sesuatu yang sifatnya fundamental, sehingga karya-karyanya cukup monumental.

Menghidupkan lagi diskursus politik, sosial budaya dan agama dalam satu bingkai, prinsip nilai yang ia tawarkan menjadi solusi. Ia mampu menautkan agama, ideologi, sudut pandang teosentris dan antroposentris pada masa lalu.

Kuntowijoyo berusaha membawa kita melihat konteks sosial hari ini dan konteks sosial di masa lalu, yang bermuara di masa depan. Ia menyederhanakan berbagai permasalahan tersebut dalam bingkai perspektif sosial.

Kuntowijoyo menawarkan suatu konsep “ilmu sosial profetik” yang menarik dalam merespon pergolakan sosial melalui objektivitas ilmu dan agama, lewat teks agama ke konteks sosial hari ini. Setidaknya ada tiga hal yang paling mendasar menurutnya.

Pertama adalah humanisasi. Humanisasi menurut Kuntowijoyo berbeda dengan humanisasi di Eropa pada masa Renaisans dimana agama begitu dogmatis sehingga mendapatkan perlawanan dan membuat pengikutnya sekuler. Pandangan antroposentris pada masa Renaisans menolak bahwa Tuhan adalah pusat inti dari segalanya. Trauma ini diperparah karena agama dijadikan sebagai alat kekuasaan. Para ilmuwan seperti Galileo dan Copernicus di bunuh karena dianggap menyesatkan dan menistakan gereja atas penemuan sainsnya.

Antroposentris juga menganggap manusia adalah subjek utama alam semesta. Manusia sendiri yang membentuk nilai dan standar kebenaran yang ada di jagat raya ini. Rasionalitas adalalah tolak ukur semuanya. Alam raya dijadikan objek kekuasaan. Oleh karena itu kehidupan diatur oleh manusia dan alam boleh dieksploitasi.

Perkembangan pengetahuan, penemuan teknologi merupakan upaya yang dirancang semata-mata untuk memudahkan kehidupan manusia. Alam menyediakan segalanya, dan manusia bisa menikmati sesukanya.

Kuntowijoyo mengoreksi dan menawarkan konsep humanisasi teosentris untuk menggantikan humanisasi antroposentris. Manusia harus memusatkan diri pada Tuhan, tujuannya adalah untuk kepentingan “kemanusiaan”, tidak seperti di masa Renaisans, disini agama menjelaskan realitas sosial dan berdialektika dengan sains, seperti teks dan konteks yang saling memverifikasi kebenaran.

Perkembangan peradaban kemudian diukur dari transendensi yang humanis. Manusia dan alam bersaudara secara cosmosentris. Jangka panjang kehidupan manusia tergantung sejauh mana ketersediaan kebutuhan manusia atas alam.

Konsep yang ditawarkan Kuntowijoyo yang kedua adalah liberasi. Menurut Kuntowijoyo dalam perspektif ilmu sosial profetik, liberasi berarti bermakna bebas seperti sosialisme (marxisme,komunisme) teori ketergantungan dan teologi pembebasan. Hanya saja liberasi disini tidak ideologis seperti komunisme.

Jika dalam teologi pembebasan, liberasi di pahami sebagai konteks ajaran teologis. Maka dalam liberasi ilmu sosial profetik, Kuntowijoyo memaknai liberasi dengan kedudukannya sebagai konteks ilmu sosial yang memiliki tanggung jawab profetik. Dari nahi munkar, prinsip profetik atau kenabian adalah membebaskan manusia dari kekejaman, kemiskinan, dan ketidaktahuan. Juga dari hegemoni dan dominasi struktur yang menindas yang membentuk kesadaran palsu atas kesadaran yang ideal mengenai seperti apa kita seharusnya bersikap dan bertindak.

Kuntowijoyo memaparkan ilmu sosial profetikcbekerja pada realitas empiris, dan bersifat kongkrit. Nilai profetik transendental dari agama, teks keagamaan dan konteks hari ini sebagai saling menyapa. Berbeda dengan dogma agama di masa Renaisans yang membunuh logika.

Ia juga berpendapat bahwa sarana sasaran liberasi adalah membebaskan sistem pengetahuan, sistem sosial ekonomi dan sistem politik yang membelenggu dan mengekang kesadaran. Tujuanya tentu untuk menafsir ulang peradaban yang memanusiakan manusia serta lingkungan. Dan ini bagian dari upaya untuk merefleksikan spirit kenabian.

Konsep terakhir yang diusung Kuntowijoyo adalah transendensi. Transendensi menjadi dasar dari ilmu sosial profetik atau dalam perkembanganya politik profetik. Transendensi adalah pondasi dasar dua unsur lainnya. Konsep ini diderivasikan dari tu’minuna bi Allah (beriman kepada Allah) ini menjadi bagian proses membangun peradaban karena dasarnya agama sebagai nilai bukan sebagai alat politik.

Ekses negatif yang ditimbulkan oleh modernitas mendorong terjadinya gairah alternatif yang ditawarkan agama dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Produk Renaisans yang antroposentris, mengajari cara berpikir bukan cara hidup. Rasio menciptakan alat-alat bukan kesadaran. Rasio mengajari manusia menguasai hidup bukan memaknai hidup, dan akhirnya kita hidup tanpa makna.

Obyektivitas Agama

Bicara soal agama, kita sama-sama mengetahui bahwa agama berbicara dengan teks-teks kitab suci. Teks kitab membahas pesan ketuhanan dan konteks di masa lalu. Dalam hal ini agama bersifat menyampaikan pesan, aturan nilai dan jalan keluar. Objek empirisnya adalah nabi sebagai pengantar pesannya. Tetapi sayangnya, traumatik keagamaan di masa Renaisans membuat banyak orang menggeneralisasi agama suatu institusi yang mengekang.

Tujuan keagamaan sendiri ialah menguji realitas saat ini dengan teks keagamaan. Objektivitas realitas bisa diterima bila nilainya terimplementasi bukan dengan interpretasi atau tafsiran cocoklogi yang malah berbeda dengan nilai keagamaan.

Sebagai contoh, ayat Alquran mengenai medis dan sains di hubungkan kebenarannya ketika ada penemuan yang relevan dengan teks ayat, lalu narasi yang berkembang adalah “Alquran sudah berbicara tentang ini sebelum penemuan ini ada”, ini sama saja menempelkan ayat ini dengan eksperimen yang baru di temukan dari hasil perkembangan pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat.

Ini tidak membuat orang objektif kepada teks keagamaan, menurut Kuntowijoyo ini adalah “Islamisasi Ilmu.”

Mengapa tidak mencoba sebaliknya, menguji teks dengan latar belakang keilmuan yang kita miliki. Tentu saja dengan syarat, melakukan penafsiran sesuai dengan kaidah tafsir yang ada, dan menguji kembali dengan latar belakang disiplin ilmu pengetahuan yang kita miliki. Bukankah itu objektif?

Menurut Kuntowijoyo ini di sebut “saintifikasi Islam”. Islam adalah agama yang mendukung dan menganjurkan kita berilmu dalam beragama.

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,” (Q.S Al-Alaq: 1)

Di dalam ayat pertama surah Al-Alaq, Islam meminta kita berilmu dengan landasan iman. Bagaimana mungkin Ibnu Sina yang disebut orang Eropa sebagai Avicenna dan Ibnu Khaldun diapresiasi pengetahuanya kalau hanya mengislamisasi ilmu pengetahuan bukan saintifikasi islam.

Bahkan sebelum teori “Emile Durkheim” solidaritas sosial mekanik dan organik dalam studi sosiologi yang banyak di bahas itu ada, Ibnu Khaldun sudah lebih dulu dalam kitabnya Mukadimah melahirkan teori solidaritas khadarah dan badarah. Solidaritas kholdunian adalah magnum opus yang mempengaruhi Durkheim membuat solidaritas Durkheimiannya.

Tujuan penulis membedah konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo semata-mata untuk membagikan insight mengenai proses integrasi ilmu dan agama secara objektif dan faktual dari teks ke konteks. Dalam bukunya, Sosiolog UGM Heru Nugroho menilai, pandangan Kuntowijoyo termasuk dalam istilah “hegelianisme religius”, yakni perbedaan lebih spesifiknya basis materi dan basis kesadaran yang kemudian nilai religiusitas yang kontekstualitas menjadi sintesa dalam perkembangan konsep ini.

Objektifikasi adalah penerjemahan nilai-nilai internal ke dalam nilai kategori-kategori objektif, juga merupakan kongkretisasi dari keyakinan internal, suatu perbuatan di nilai obyektif bila perbuatan itu dirasakan oleh diluar keyakinan itu sebagai suatu yang natural dan sewajarnya tidak sebagai suatu pemaksaan, itu hanya akan membuat dominasi.

Related posts
Opini

BJ. Habibie Diantara Agama, Negara dan Teknologi

Opini

Habibie dan Keputusan Politik 1998

MahasiswaOpiniPelajar

Menjadi Peka Sosial dengan Aktif Berorganisasi