KemasyarakatanWanita

Ibu Ai Bina 200 Anak Didik di Rumah Singgahnya

Suryakata.id – Siapa bilang setelah menikah perempuan tidak dapat mengatualisasikan dirinya lagi? Jika kamu berpikir demikian, kisah Ibu Ai ini akan mulai membuka pikiranmu. Ibu Ai adalah salah satu wanita penerus Kartini yang berjuang untuk kemajuan dirinya sendiri dan berjuang melawan kebodohan anak-anak Indonesia. Kini Ibu Ai telah mendidik ratusan anak didik dengan tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu di rumahnya.

Ai Siti Shofuro adalah seorang ibu rumah tangga lulusan PGAN Sukamanah tahun 1992. Sedari kecil ia telah terbiasa mengajar karena keluarganya memiliki lembaga pendidikan TK-TPA Al-Iqomah di Tasikmalaya. Mengikut suaminya merantau di kota, ia tidak dapat lagi mengajar sebagaimana biasanya. Untuk belasan tahun Ibu Ai hanya menetap di rumah sebagai ibu rumah tangga biasa.

Hingga suatu hari, ia berteman dengan Ibu Yati saat menunggu anak bungsunya belajar di sekolah. Dari ikatan persahabatan yang dijalin dengan Ibu Yati, panggilan jiwa untuk mengajar terpanggil kembali, karena Ibu Yati berinisiatif untuk mengajaknya membuka pengajian di lingkungan sekitar rumahnya. Bersama Ibu Yati, Ibu Ai mengajar di pengajian An-Nur yang menjadi cikal bakal didirikannya Paud dikemudian hari.

Sebagai salah satu jajaran pendiri, Ibu Ai memegang posisi penting dalam menejemen Paud An-Nur. Namun ia memilih untuk tidak banyak terlibat, karena dengan mengajar saja, waktunya di rumah sudah banyak tersita. Makin hari, Paud An-Nur yang didirikan oleh Ibu Yati dan Ibu Ai semakin berkembang. Permintaan jam mengajar pun bertambah. Namun hal ini pulalah yang menjadi dilema tersendiri bagi Ibu Ai, karena ia semakin kehilangan banyak waktu untuk mengurus rumah.

Atas pertimbangan pribadi bersama suami, Ibu Ai memutuskan untuk keluar dari Paud An-Nur. Namun karena ia sudah mulai terbiasa mengajar, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya. Ia pun berinisiatif untuk tetap mengajar dengan membuka les privat di rumah. Les privat ini kian waktu kian terdengar di telinga warga Desa Karang Asih, Cikarang Utara.

Melihat adanya peluang berbagi yang besar yang didukung oleh semangat belajar yang tinggi dari anak dan orang tua murid, pada tahun 2012 Ibu Ai akhirnya memberanikan diri untuk secara serius mengelola rumah singgah yang terbuka untuk umum secara gratis. Ia memberi nama rumah singgahnya dengan Rumah Iqra Fauzan. Ia melihat bahwa, membuka rumah singgah merupakan kesempatan baginya untuk mengubah kebiasaan anak-anak sekitar rumah yang lebih banyak bermain di waktu Maghrib dengan belajar dan mengaji. Melalui rumah singgah ini pula Ibu Ai dapat memberikan pendidikan secara cuma-cuma, kepada anak yatim/piatu ataupun anak-anak yang orang tuanya tidak mampu menyekolahkan anaknya di taman pendidikan anak-anak seperti RA, Paud ataupun TK.

“Belajar disini tidak dipungut biaya, siapa aja boleh belajar, yang penting mau serius belajar. Tujuannya biar anak-anak tidak cuma bermain tapi diselingi dengan belajar.”

Dan yang paling terpenting, memiliki rumah singgah merupakan wadah baginya untuk terus dapat mengaktualisasikan diri tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu di rumah.

Menurut penuturannya materi yang diajarkan di Rumah Iqra Fauzan sangatlah sederhana. Ibu Ai membantu anak pra sekolah untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Sedangkan untuk anak-anak usia sekolah ia lebih banyak mengajarkan ilmu agama seperti membaca Al-Quran dengan tajwid, fiqih, sejarah Islam, dll.

“Konsep belajarnya sih simpel, cuma disuruh belajar baca aja, biar anak-anak Indonesia pintar membaca, menulis dan berhitung.”

Kini, Ibu Ai memiliki anak didik kurang lebih sebanyak 200 anak. Dalam satu hari, ia mengajar dibantu oleh dua keponakan dan anak perempuannya. Kelas yang dibuka Rumah Iqra Fauzan dibagi kedalam tiga sesi. Sesi pertama dibuka sejak pukul 08.00 hingga jam 11.00 pagi. Sesi kedua dibuka pada pukul 15.00 hingga 17.00. Dan sesi terakhir dibuka pada pukul 18.00 hingga 20.00 WIB. Selain mengajar, Ibu Ai juga sering menggelar kegiatan sosial bersama anak-anak Rumah Iqra Fauzan. (AUL)

Related posts
KemasyarakatanLipsus Kolaborasi

Membumikan Risalah Pencerahan, AMM Kabupaten Bandung gelar Spirit Of Ramadhan

MahasiswaWanita

Mengenal Sosok Professor Perempuan Pertama di Indonesia

KemasyarakatanKepemudaanWanita

Ada apa tanggal 1 Mei? Siapa itu buruh?

KemasyarakatanWanita

Mengenang Marsinah, Pahlawan Buruh Era Orde Baru