Berbagi Inspirasi, Mencerahkan Peradaban

Gerakan Pencerahan Eko Cahyono dan Perpustakaan Anak Bangsa

Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) yang didirikan Eko kini telah mengkoleksi lebih dari 50.000 buku berbagai jenis, dan tentunya bangunan permanen. Buku ilmu pengetahuan, majalah, koran, komik, resep masakan, kliping hingga novel ‘kelas berat’ seperti Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer, atau Harry Potter bisa Ngalamers temukan. Sekitar 8000 anggotanya menyebar di seluruh wilayah Malang dan kota – kota di sekitarnya, dari ibu rumah tangga, tukang ojek, mahasiswa, hingga guru. Namun, angka-angka ribuan ini tak diraih Eko dengan mudah.

“Yang membuat saya miris, (dulu) ada orang tua yang baca korannya terbalik. Bukan karena apa, artinya masih ada orang yang buta huruf.” terang Eko Cahyono.

Seorang anak di Perpustakaan Anak Bangsa sedang membacakan pidato.

Hobbi Sejak Kecil

Ketika dirintis pada 1998, perpustakaan ini hanyalah wujud hobi pemuda lulusan Sekolah Dasar yang suka membaca. Hobi ini beranjak menjadi virus yang ingin Eko tularkan kepada warga sekitar pasca PHK dari perusahaan konveksi tempatnya bekerja.

“Di emper rumah, saya tumpuk beberapa buku dan majalah untuk menarik minat orang-orang. Banyak di antaranya majalah dewasa, hanya sekadar pancingan. Termasuk gitar, dakon, sama permainan ular tangga,” terang Eko bersemangat. “Lama kelamaan saya kewalahan sendiri, ternyata minat warga sangat besar.”

Untuk meladeni minat baca yang besar ia harus menambah koleksinya. Dari meminta sumbangan pada pecinta buku hingga, harus rela seharian menunggu di depan TB Gramedia. Barangkali ada orang yang bersedia menyumbangkan beberapa buku yang telah dibeli, dan berhasil. Koleksi perpustakaan Eko bertambah. Namun justru ini yang menjadi titik baliknya.

Reaksi Sekitar hingga Problem Finansial

Kegaduhan yang ditimbulkan orang-orang yang berkunjung ke rumahnya untuk sekadar membaca atau bermain Play Station yang memang disediakan. Pilihan muncul dari orang tuanya, perpustakaan berhenti atau lanjut. Pilihan kedua dipilih bungsu ketiga dari bersaudara ini, tapi ia harus pindah dari rumah. Karena menganggur, sepeda motor satu-satunya dijual untuk mengontrak bangunan baru.

Masalah tak berhenti di sini, perpustakaan barunya sempat digerebek warga karena banyak anak muda yang datang ketika malam hari, dan itu dianggap maksiat. Bahkan ada warga yang melaporkan ke Polisi karena dianggap perpustakaan Eko menyediakan buku berbau pornografi. Tuduhan dibuktikan Eko tidak benar, “Bahkan polisi tersebut malah meminjam buku koleksi perpustakaan.” imbuhnya sambil tersenyum lebar.

Eko dan anggota perpustakaan kala itu membuktikan kepada warga jika kegiatan yang mereka lakukan positif. Tak hanya membaca, melukis, menggambar, berdiskusi. Ketika halomalang berkunjung tampak puluhan lukisan, puisi hingga origami untuk souvenir karya anak-anak SD memenuhi rak buku. “Dari keterampilan melipat warga menjadikannya usaha untuk souvenir maskawin pernikahan,” kata Eko. Bahkan ada satu anggotanya, ibu rumah tangga yang kini mengembangkan usaha keripik pisang dari referensi buku yang dibaca di Perpustakaan Anak Bangsa tanpa pintu, tanpa denda, serta Buka 24 Jam.

Terbatasnya kondisi keuangan tak lantas menyurutkan semangat Eko. Dari entah berapa kali berpindah tempat (pernah sekali di samping kuburan) menjual motor kesayangan, hingga sekarang di tempat permanen: ruangan tembok berukuran 6 x 12 meter berlantai bagus. “Perpustakaan kami dulu selalu berpindah-pindah. Pernah ada yang rumahnya saya kontrak tapi tiba-tiba diminta kembali. Akhirnya PAB harus pindah ke tempat lain. Pejabat hanya datang, mencatat, memotret lalu pulang,” sambung Eko

Untuk mencukupi kebutuhan operasional PAB, seperti fotokopi, perawatan, atau membeli alat tulis, Eko ikut menjaga stan-stan pameran buku. Termasuk menjual gorengan, hingga mengirim artikel juga dilakoni untuk menunjang kebutuhan. Pada penghujung 2011, Wakil Bupati Malang Ahmad Subhan mengunjungi PAB yang masih berupa gubuk bambu. Eko mendapat sumbangan yang bisa digunakan untuk membeli tanah seluas 12 meter x 27 meter. dan Yayasan Kick Andy dan PT Amerta Indah Otsuka memberikan bantuan untuk mendirikan bangunan permanen. “Saya lega karena tak perlu lagi mengontrak tempat,” katanya. Tuhan telah memberikan jalan bagi kegigihan Eko

Bangunan permanen di antara rumah warga inilah yang kini menjadi tempat beragam bacaan, karya puisi, kliping, origami, tempat diskusi, nonton bareng, dan tentunya membaca. Bahkan buku infografis sejarah dunia ‘The Wall Chart of World History – From Earliest Time To The Present’ yang ia klaim terpanjang di Indonesia ini bisa kita baca. Di halaman depan PAB ditanami puluhan tanaman obat dan sayur yang hasilnya bisa dimanfaatkan.

“Bisa sampean lihat, PAB tidak ada pintunya. Kami buka 24 jam penuh. Tiap anggota tahu nomor kartunya sendiri, jadi misalkan saya tidak ada siapapun yang ingin meminjam bisa mengisi sendiri.” Bagi peminjam pun tidak dikenai batas waktu peminjaman maupun denda keterlambatan. Judul-judul populer bahkan sering ‘jalan-jalan’ hingga setahun. Istilah ini disebut Eko karena ia percaya bukunya tak pernah hilang.

Penghargaan dari Berbagai Pihak

Sebuah metode yang sangat terbuka, dan ini butuh kepercayaan. Eko sudah membangun kedua hal tersebut dengan baik. Di etalase kaca di samping akses masuk PAB berjajar puluhan penghargaan, di antaranya: Nugra Jasadharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI, Mutiara Bangsa Bidang Pendidikan, PASIAD Award 2012, Taman Bacaan Kreatif dan Rekreatif Se-Indonesia dari Dirjen Pendidikan Nonformal & Informal Kemendiknas pada 2011, Kick Andy Heroes 2010, dll. Bahkan orang tua yang dulunya tak mendukung, kini malah menjadi salah satu pendorong terbesarnya untuk mempertahankan PAB. “Jika kita mengerjakan apa yang kita bisa, maka Tuhan akan mengerjakan apa yang tidak bisa kita lakukan.” pungkasnya terseyum.

Penghargaan dari Astra untuk Perpustakaan Anak Bangsa

“Pepustakaan sepi kalau siang hari mas. Baru setelah magrib ramai oleh warga sekitar baik anak maupun ibu-ibu yang ingin membaca, karena kebanyakan mereka petani. Siang mereka harus kerja.” imbuh Eko. “Dan bacaan mereka semakin berkembang, saya sampai kewalahan mencari permintaan judul baru.”

Minat besar pembaca inilah yang kini menjadi tantangan pemuda lajang kelahiran 1980 ini Ngalamers. Bahkan, dulunya ia harus susah payah mengajak orang untuk tertarik melihat buku. Dari kunjungannya ke Pulau Sapudi (Sumenep Madura) beberapa waktu lalu untuk mengantarkan buku, Eko menyebut anak-anak setempat sangat haus akan bacaan. Eko Cahyono mengajak semua orang, siapapun yang memiliki buku, bacaan apapun yang berlebih atau tidak dipakai untuk menyumbangkan ke PAB di Jl. Ahmad Yani, Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Untuk menghubungi bisa ke nomornya langsung: 085646455384.

rahmatridham

Rahmat Ridha Mustakim, Grow up with buginese and makassarese culture within. Born in Makassar City, South Sulawesi. Youthfull in Bandung, West Java. A particulary boy with a huge ambition to through dream and improve the world using innovation Technologies approach with Learning, Giving, and Sharing



Tentang Kami

suryakata.id adalah platform pemberitaan kabar baik dari berbagai pelosok wilayah Ibu Pertiwi. Bertujuan untuk menyalurkan semangat baik, untuk terwujudnya paradaban masyarakat yang cerah dan menggembirakan



Ikuti Kami




Berlangganan

[contact-form-7 id=”2056″ title=”Newsletter form”]