Berbagi Inspirasi, Mencerahkan Peradaban

Bu Suparjiyem, Berdayakan Warga dari Bergosip Jadi Kegiatan Positif

Banyak kaum perempuan di desa yang menghabiskan waktu di sore dengan berkumpul untuk menggosip. Didasari keprihatinan itu Suparjiyem (52) warga Desa Wareng Kecamatan Semanu Kabupaten Gunungkidul, DIY berusaha agar mereka mempunyai kegiatan yang positif atau memberikan hasil.

Membentuk Kelompok Wanita Tani

Suparjiyem selama lebih kurang 20 tahun berusaha memberdayakan kelompoknya dengan berbagai kegiatan di bidang pertanian. Dia mendirikan Kelompok Wanita Tani Menur. Berbagai kegiatan produktif seperti pertanian organik, pengolahan bahan makanan hingga bantuan bimbingan kepada petani untuk mengatasi perubahan iklim/cuaca.

Sebab di di wilayah Gunungkidul, lahan pertanian sebagian besar merupakan pertanian tadah hujan dan lebih banyak ditanami tanaman palawija dan umbi-umbian. Untuk menentukan musim tanam juga masih tradisional yakni menggunakan sistem Pranata Mangsa. Sementara itu perubahan iklim saat ini telah mempengaruhi pengolahan lahan pertanian atau bercocok tanam.

Pada kenyataan di lapangan, banyak peristiwa cuaca yang tidak lagi sesuai dengan pranata mangsa. Akibatnya banyak petani yang mengalami gagal panen. Bila petani mengalami gagal panen, keluarga pun akan terganggu.

“Petani masih menggunakan sistem Pranata Mangsa. Pranata mangsa ini adalah kalender tanam yang digunakan petani di Jawa selama ratusan tahun. Pranata mangsa yang tidak sesuai ini mengakibatkan petani banyak mengalami gagal panen,” kata Suparjiyem dalam acara GROW Oxfam di Hotek East Park, Jl Laksda Adisutjipto, Seturan, Sleman.

Edukasi Pertanian Sejak Kecil

Menurutnya dalam hal keterampilan dan pengalaman bertani, mereka sudah berpengalaman karena sejak kecil telah diajari bertani oleh orangtua. Namun pola pertanian yang tradisional itu yang sering mengakibatkan kegagalan akibat perubahan iklim.

Suparjiyem dan Kelompok Wanita Tani Menur itu telah menerima beberapa pelatihan tentang cara-cara untuk mengatasi perubahan iklim. Mereka telah menerapkannya di ladang yang dikelolanya. Hasilnya banyak yang berhasil atau nol gagal panen.

“Caranya, kami mengantisipasi musim tanam dengan cara mengolah tanah dan varietas tanaman,” paparnya.

Bu Par panggilan akrabnya itu kemudian mencontohkan ketika musim diprediksi menjadi sangat basah atau banyak curah hujan, petani perlu menanam tanaman yang dapat menahan banyak air.

Saat banyak petani tradisional yang gagal panen, sebaliknya dia bersama kelompok tani justru berhasil. Namun tidak pelit berbagi pengetahuan, keterampilan yang didapatnya itu kemudian disebarkan kepada petani lain di luar kelompoknya.

“Petani yang tidak mengalami kegagalan panen itu kemudian jadi panutan, petani lain akan belajar kepada kami,” katanya.

Suparjiyem mendirikan Kelompok Tani Wanita Menur pada tahun 1989, awalnya adalah kelompok arisan ibu-ibu di dusun. Kegiatannya masih berkisar mengenai tabungan dan kredit. Uang yang terkumpul di arisan yang dapat digunakan sebagai pinjaman oleh 25 anggotanya pada saat itu.

Di sela-sela kegiatan itu lanjut Bu Par, banyak ibu-ibu yang dikelompoknya yang  membicarakan masalah keluarga. Mereka banyak menghabiskan waktu hanya untuk bergosip. Dia pun kemudian berpikir untuk mengubahnya menjadi kegiatan positif.

“Saya mulai berpikir bagaimana cara-cara untuk membantu keluarga mereka mendapatkan penghasilan tambahan dengan menanam, pertanian kecil di rumah masing-masing,” katanya.

Penolakan dari Berbagai Pihak

Benih Suwek yang siap di tanam hasil penangkaran KWT Menur

Pertanian yang dikelola itu berupa tanaman pangan yang dapat menggantikan beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Pada awalnya kegiatan kaum ibu-ibu ini mendapat  penolakan atau resistensi dari suami. Mereka keberatan dengan jenis tanaman pangan yang dibudidayakan di lahan kecil yang mereka mereka.

“Hampir sebagian besar petani mempunyai lahan yang sempit. Pengolahan tanah secara tradisional dan manual. Rata-rata hanya memiliki lahan 1.000 meter persegi per keluarga,” katanya.

Tidak hanya itu pada awal kegiatan, dia banyak mendapat cemooh warga sekitar. Pemerintah pun juga memandang sebelah mata, dianggap seperti provokator. Sebab dalam kehidupan di masyarakat umum, perempuan seharusnya tidak boleh keluar rumah.

Karena tidak mendapat persetujuan, Bu Par dan kelompoknya kemudian mengumpulkan dana dari biaya anggota dan sumbangan untuk menyewa lahan pertanian 800 meter persegi.

Dia mulai dengan menguji berbagai tanaman, termasuk lamanya waktu yang dibutuhkan untuk panen mereka. Ujicoba ini membantu mereka menentukan tanaman yang terbaik untuk ditanam di lahan mereka.

“Awalnya kami coba tanam padi seperti ketan hitam, buah-buahan dan sayuran seperti mangga, rambutan dan kacang-kacangan berbagai jenis umbi,” katanya.

Bersama kelompoknya, dia juga mulai menggunakan jenis pupuk organik. Pupuk organik yang digunakan berasal dari kotoran hewan ternak milik anggotanya. Sebab hampir semua anggota memilik hewan ternak yang menjadi harta simpanan atau tabungan keluarga. Selain itu juga membuat pupuk kompos dari tanaman di sekitarnya.

Kegiatan yang berhasil itu katanya, pelan-pelan, para suami anggota kelompok mulai berubah pikiran. Mereka membiarkan untuk bertani tanaman di pekarangannya sendiri.

Setelah itu dia mulai memikirkan mengolah hasil panen itu menjadi yang lebih berharga. Hasil panen umbi-umbian seperti singkong, ganyong, garut dijadikan tepung, makanan ringan dan keripik.

“Kami berpikir ketahanan pangan tidak tergantung padi saja. Kami berhasil memanfaatkan makanan pengganti beras. Umbi-umbian seperti ketela, ganyong, garut jadi makanan pengganti,” katanya.

Bu Par berkeinginan perempuan yang menjadi roh manajemen dalam keluarga itu punya ketahanan pangan keluarga itu juga kuat.

rahmatridham

Rahmat Ridha Mustakim, Grow up with buginese and makassarese culture within. Born in Makassar City, South Sulawesi. Youthfull in Bandung, West Java. A particulary boy with a huge ambition to through dream and improve the world using innovation Technologies approach with Learning, Giving, and Sharing



Tentang Kami

suryakata.id adalah platform pemberitaan kabar baik dari berbagai pelosok wilayah Ibu Pertiwi. Bertujuan untuk menyalurkan semangat baik, untuk terwujudnya paradaban masyarakat yang cerah dan menggembirakan



Ikuti Kami




Berlangganan

[contact-form-7 id=”2056″ title=”Newsletter form”]