Berbagi Inspirasi, Mencerahkan Peradaban

Blog

Bring to the table win-win survival strategies to ensure proactive domination. At the end of the day, going forward, a new normal that has evolved from generation.
stephanie-kurlow.jpg

admin admin18 August, 20184min32

Menggapai sebuah mimpi besar tidak pernah mudah. Proses panjang dan penuh rintangan mungkin dirasakan oleh mereka yang setia mengejar mimpi, tidak terkecuali bagi Stephanie Kurlow.

Nama Stephanie Kurlow tiba-tiba menjadi viral lantaran mimpinya. Remaja 15 tahun asal Sydney itu ingin tampil sebagai penari balet pertama yang mengenakan hijab, bukan hanya di Australia namun dunia.

Balerina sejak usia 2 tahun

Stephanie sangat menyukai tari balet sejak usia 2 tahun. Namun ketika ia dan keluarganya memeluk Islam dan memutuskan untuk berhijab di 2010, dia sempat berhenti menjadi penari. Tiga tahun vakum, barulah gadis keturunan Australia dan Rusia ini berkomitmen bila hijab harusnya tak jadi halangan mewujudkan cita-citanya menjadi penari balet profesional.

Beberapa waktu lalu, Wolipop berkesempatan berbincang dengan gadis yang tengah mengejar mimpinya itu. Dalam suasana hangat di Kota Melbourne, Australia, Stephanie mengungkap kisah, dukungan hingga tantangan yang membuatnya berdiri sekarang ini.

“Ketika aku berhenti balet selama tiga tahun aku melihat Zahra Lari, dia adalah wanita berhijab pertama yang menjadi ice skater profesional. Itu seperti hal pertama yang terdekat dengan menari. Aku sangat terinspirasi olehnya dan mulai melakukan balet lagi, sekarang aku melakukan balet secara penuh, 25 jam dalam satu minggu,” paparnya kepada Wolipop di tengah acara Wardah Fashion Journey, di The Botanical, Minggu (19/3/2017).

Baginya tantangan terbesar dari melakukan balet dengan hijab bukanlah ruang gerak yang terbatas karena penutup kepala. Komentar negatif dari orang-orang yang mem-bully ia di media sosial adalah halangan terbesar yang ia rasakan.

“Kostum balet bisa diubah sesuai keinginan, yang terberat adalah ketika aku memakai hijab di usia 11 tahun dan itu langkah yang besar. Banyak orang-ornag yang tidak menyukainya. Bagian terburuk adalah komentar negatif dari dunia maya. Aku mencoba mengacuhkannya karena mereka tidak tahu aku yang sebenarnya,” imbuh remaja yang namanya masuk dalam berbagai media internasional ini.

Perjuangan masuk sekolah balet

Perjuangan Stephanie menjadi hijabers pertama yang melakukan balet dimulai di 2016 lalu. Kala itu ia mengadakan kampanye sekaligus menggalang dana di situs projek pengumpulan uang untuk masyarakat muslim yang menginspirasi, LaunchGood. Stephanie berharap bisa mengumpulkan uang 10.000 AUD atau sekitar Rp 100 jutaan untuk membuktikan bahwa agama tidak menjadi penghalang meraih kesuksesan di bidang seni pertunjukan.

Perjuangannya berujung manis, pengumpulan dana itu membawanya lebih dekat untuk menjadi penari balet profesional. Bahkan sukses meraih angka 75.000 AUD atau sekitar 750 juta yang lalu ia gunakan untuk msuk ke sekolah balet di tahun ini.

Meski berbeda dengan penampilan penari balet lain karena hijabnya, Stephanie justru merasa beruntung memiliki perbedaan yang membuatnya unik.

“Aku merasa luar biasa, istimewa dan unik. Ada pula penari balet profesional yang memujiku. Menyukai apa yang aku lakukan dan penampilanku,” lanjut gadis yang menyukai tarian balet Sleeping Beauty dan The Nutcracker.

Stephanie mengungkapkan bila sekarang ia memiliki satu impian besar lainnya. Setelah menjadi penari balet profesional nanti, dia bercita-cita untuk membuka studio balet miliknya sendiri.

“Aku ingin membuat sebuah perusahaan, studio balet profesional. Sekolah ini terbuka untuk semua ras dan agama, jadi mereka bisa mengejar mimpinya,” pungkas Stephanie.

Sumber: https://wolipop.detik.com/read/2017/03/22/163531/3453973/1634/mengenal-stephanie-kurlow-penari-balet-berhijab-pertama-dari-australia


news_36893_1431145610.jpg

rahmatridham22 July, 20182min44

Dua siswi asal SMA Negeri 3 Semarang berhasil menyabet emas dalam ajang kompetisi inovasi anak muda tingkat dunia, International Exhibition for Young Inventors (IEYI) yang berlangsung di Jakarta 30 Oktober – 1 November 2014.

Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila, dua siswi tersebut, mendapatkan penghargaan karena berhasil menciptakan perangkat sederhana namun berguna bernama Sibodec, stick of borax detector. Lewat perangkat serupa tusuk gigi itu, Dayu dan Luthfia berupaya menyelesaikan masalah yang selalu dihadapi masyarakat, yaitu kesulitan memilih makanan enak bebas bahan kimia berbahaya seperti boraks.

Selama ini, deteksi boraks dalam makanan tak pernah praktis dan efektif. Sampel makanan harus diambil terlebih dahulu dan dikirim ke laboratorium. Hasil analisis baru didapatkan berjam-jam atau bahkan berhari-hari kemudian. Dengan Sibodec, analisis kandungan boraks pada makanan sangat mudah, hanya memakan waktu sekitar 5 detik. Publik hanya perlu menusuk makanan dengan Sibodec dan melihat perubahan warna tusuk gigi itu. “Kalau warna berubah menjadi oranye, maka makanan itu mengandung boraks,” ungkap Luthfia.

Sibodec telah dilengkapi dengan bahan kimia yang masih dirahasiakan. Bahan hanya sensitif terhadap boraks sehingga perubahan warna memang menunjukkan adanya senyawa itu. IEYI yang berlangsung kali ini merupakan yang ke-10. Ajang ini diselenggarakan setiap tahun, diikuti oleh berbagai negara dari Malaysia hingga Mesir. Kali ini, tuan rumahnya adalah Indonesia dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai penyelenggara.

Apresiasi Internasional

Dalam ajang kali ini, Indonesia menyabet 2 emas, 5 perak, dan 11 perunggu. Siswa Indonesia lain yang mendapatkan emas adalah Naufal Rasendriya Apta dan Archel Valiano daro SMP Al Azhar 26 Yogyakarta lewat inovasinya Sign Lamp Helmet Automatically.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Bikin “Tusuk Gigi Ajaib”, Pelajar Semarang Raih Penghargaan Internasional”, https://sains.kompas.com/read/2014/11/02/17385161/Bikin.Tusuk.Gigi.Ajaib.Pelajar.Semarang.Raih.Penghargaan.Internasional.
Penulis : Yunanto Wiji Utomo


peserta-sbmptn-2016-termuda-bidik-kampus-jerman-yBmApUdYgo.jpg

rahmatridham22 July, 20185min41

Bocah bernama  Musa Izzanardi Wijanarko menjadi sosok fenomenal dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017. Bagaimana tidak, Izzan, sapaan akrabnya, diterima masuk menjadi mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Institut Teknologi Bandung ( ITB) di usianya yang baru 14 tahun.  Anak kedua dari pasangan Yanti Herawati (46) dan Mursid Wijanarko (46) ini ternyata tidak pernah bersekolah formal seperti orang kebanyakan. Ijazah paket C yang didapatkannya pada tahun 2015 lalu menjadi modal untuk mengikuti SBMPTN 2017.  “Ijazah paket A (SD) diambil waktu dia umur 8 tahun,” ujar Yanti saat dihubungi Kompas.com melalui ponselnya, Rabu (14/6/2017) .

Tidak Bersekolah Formal

Yanti memaparkan alasan anaknya tidak pernah bersekolah resmi. Menurut dia, kejeniusan Izzan mulai terlihat ketika usiannya masih 3 tahun. Buku-buku tentang tokoh-tokoh fisika dan matematika menjadi bacaan wajibnya sehari-hari.  “Izzan pernah enggak naik dari TK A ke TK B karena waktu di sekolah alam cuma main terus enggak mau belajar dan tidak mampu mengikuti kegiatan di kelas. Akhirnya saya ajari sendiri di rumah,” tutur Yanti.  Di rumah, Yanti mengajari Izzan membaca. Bahkan Izzan meminta ibunya untuk mengajarinya bermain catur hingga akhirnya permainan asah otak tersebut menjadi aktivitas rutin ibu dan anak ini.  Menginjak usia 6 tahun, Izzan bertambah cerdas. Bocah pengagum Newton ini pun kerap kali mempraktikkan hukum gravitasi dalam kegiatan sehari-hari.  “Izzan anaknya enggak bisa diam, tetapi kalau belajar matematika dia bisa tenang. Ternyata mengamati bagian dari belajar yang dilakukannya. Dia senangnya nabrak anak lain sampai jatuh. Dia juga sering nanya teori Newton tentang hukum benda-benda angkasa,” sebutnya. Secara intensif Izzan terus belajar sendiri matematika di rumah dengan ibunya sebagai mentor. Satu tahun berjalan Izzn pun mampu menyelesaikan soal-soal dan rumus matematika yang dipelajari anak-anak SMA.  “Matematika kelas 1 SD sampai kelas 1 SMA ditempuh dalam waktu satu tahun karena dia cuma belajar matematika saja. Tulisannya juga acak-acakan karenaa jarang nulis. Umur 7 tahun Izzan mulai belajar fisika,” tuturnya. Ilmu fisika terus dipelajari secara tekun oleh Izzan. Bahkan, di usianya yang masih 7 tahun dia mampu menyelesaikan soal-soal fisika setingkat kelas 3 SMP. Salah satu teori fisika yang dipejari oleh Izzan adalah teori fisika gasing.

Kewalahan

Yanti mulai kewalahan menanggapi rasa ingin tahu Izzan yang mulai membesar ketika usia putranya 8 tahun. Dia pun tidak mampu lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Izzan.  “Umur 8 tahun dia bisa menyelesaikan matematikan kelas 3 SMA. Pertanyaannya juga sudah mulai tidak bisa saya imbangi. Salah satu pertanyaannya adalah bagaimana menurunkan diferensial benda ke dimensi N,” ujarnya.  Selain itu, Izzan yang masih berusia 8 tahun juga pernah mempertanyakan tentang matematika sudut bola. “Saya tanya teman saya yang tamatan astronomi, kata dia itu dipelajari nanti pada tingkat 3 kuliah astronomi tentang sudut 3 dimensi,” ungkapnya.  Yanti pun akhirnya bolak balik berkonsultasi dengan dosen-dosen matematika ITB seperti Agus Jodi dan Oki Neswan. Kedua dosen tersebut juga tidak mampu memberikan banyak solusi. Oki Neswan pun menyuruh agar Izzan mengikuti SBMPTN agar bakatnya bisa diasah di ITB. Dengan penuh kesabaran, Yanti pun membimbing Izzan selama beberapa tahun agar bisa ikut ujian persamaan untuk mengambil ijazah paket A hingga C.  Setelah berhasil mengambil ijazah paket C pada tahun 2015 lalu, Izzan sempat mengikuti SBMPTN pada tahun 2016. Sayang, Izzan gagal dan baru sukses pada tahun ini. “Ikut tahun ini persiapannya juga cuma dua bulan,” ucapnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Lulus SBMPTN Masuk ITB Umur 14 Tahun, Izzan Tak Pernah Sekolah Formal”, https://regional.kompas.com/read/2017/06/15/08040071/lulus.sbmptn.masuk.itb.umur.14.tahun.izzan.tak.pernah.sekolah.formal.
Penulis : Kontributor Bandung, Putra Prima Perdana


gerakan-pelajar-bersyukur_20180511_102340.jpg

rahmatridham22 July, 20183min46

Sabtu, 5 Mei 2018, para pelajar dari SMK Muhammadiyah 1 Palembang tahun kelulusan 2018 menggelar kegiatan yang bertajuk Aksi Gerakan Pelajar Bersyukur.

Aksi ini juga mendeklarasikan jika para pelajar menolak aksi corat-coret dalam rangka kelulusan tahun 2018.

Kegiatan kali ini dilakukan dalam bentuk Bakti Sosial ke Panti Asuhan Do’a Ibu yang bertepat di Jalan Kemuning, serta Panti Asuhan Cahaya Ummi yg berlokasi di kawasa Seduduk Putih.

Muhammad Rizky Kurniawan selaku koordinator Gerakan Pelajar Bersyukur, berpesan kepada seluruh pelajar di Indonesia, khususnya yang ada di Kota Palembang, agar selalu berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan dalam kegiatan yang kreatif dan selalu beramal dalam setiap kesempatan, sehingga nantinya memberikan dampak positif dan bisa dicontoh oleh pelajar-pelajar yang lain, bukan dengan melakukan kegiatan yang tidak ada manfaat dan faedahnya yang berpotensi dicontoh oleh Generasi Pelajar yang selanjutnya.

Para pelajar dari SMK Muhammadiyah 1 Palembang Tahun Kelulusan 2018 membuat Aksi Gerakan Pelajar Bersyukur untuk mendeklarasikan jika para pelajar Muhammadiyah menolak aksi corat-coret dalam rangka merayakan kelulusan tahun 2018.

“Ketika pelajar yang lain sudah terperdaya dengan kesibukan dan lingkungannya, maka sudah sepatutnya kita menyelamatkan pelajar tersebut, harus di motivasi dan diberikan contoh,” ujar Rizki. Selaku koordinator, Rizki juga mengajak para pelajar yang selanjutnya akan merayakan kelulusan, agar segera meninggalkan aksi corat-coret yang tidak ada manfaat nya.

“Banyak yang telah kita lihat di berita-berita di media bahkan televisi, bahwa banyak kejadian berujung maut ketika pelajar merayakan aksi corat coret. Tradisi yang seperti ini sudah sepatutnya untuk kita tinggalkan dan harusnya  kita membuat kegiatan yang lebih baik lagi, sehingga kita bisa menabung untuk tabungan akhirat dan bisa membuat bangga dunia pendidikan di Indonesia, agar setelah tamat sekolah ini kita bisa menjadi generasi indonesia yang cerdas, serta bermanfaat untuk umat.”

“Kita adalah pemimpin Indonesia yang akan mendatang, kalau generasi saat ini baik maka Indonesia kedepan akan baik, dan apabila generasi saat ini buruk maka Indonesia kedepan juga buruk,” ungkap Rizky yang juga aktif di Organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah ini. (*)

Menyantuni anak yatim juga dianjurkan oleh KH. Ahmad Dahlan kepada santri-santrinya, seperti yang ada di dalam Film “Sang Pencerah” yang mengisahkan tentang perjalanan sang pendiri Muhammadiyah. Karena KH. Ahmad Dahlan terinspirasi dari Surah Al-Ma’un, maka Pelajar Muhammadiyah selaku anak didiknya harus mencapai apa yang di harapkan oleh K.H. Ahmad Dahlan, agar kedepan Muhammadiyah lebih bisa terasa dakwahnya,  keberadaannya, serta bisa terus bermanfaat untuk umat.

Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Tolak Aksi Corat-coret, Pelajar SMK Muhammadiyah 1 Pilih Lakukan Bakti Sosial Rayakan Kelulusan, http://palembang.tribunnews.com/2018/05/11/tolak-aksi-corat-coret-pelajar-smk-muhammadiyah-1-pilih-lakukan-bakti-sosial-rayakan-kelulusan?page=2.

Editor: Ahmad Sadam Husen

 

 


imgonline-com-ua-twotoone-jFf0VCBWEDPFr-1280x427.jpg

rahmatridham22 July, 20181min50

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, kami dari KKN Muhammadiyah 54 th. 2018 mengajak saudara-saudara sekalian untuk ikut mendukung gerakan #BersamaBangunDesa. Berikan dukungan terbaik Anda berupa buku bacaan, alat tulis, dan bisa juga dalam bentuk uang yang insya Allah kami alokasikan untuk kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Pepedan, Karangmoncol, Kab. Purbalingga pada 03 Agustus – 06 September 2018.

Sudah ingin bergerak bersama kami untuk membangun Indonesia ?
Yuk #BersamaBangunDesa!
Silahkan temui kami di :
Instagram : www.instagram.com/kknmuh54
CP : 083144692115 (Putri) – 082226046662 (Dila)


0dec60cd-0fe2-40ed-a53f-0c07db9fe98e-1280x960.jpg

rahmatridham21 July, 20182min48

Kab. Bandung – Rancaekek Community (RC) menggelar acara milangkala sadasawarsa RC yang di meriahkan oleh Festival badawang dan pemecahan rekor makan opak terbanyak yang melibatkan ratusan warga di kompleks Dome (Gedung serba guna) Kecamatan Rancaekek, Sabtu (7/7).

Acara festival badawang sendiri sengaja di angkat sebagai tema milangkala Rancaekek Community karena nilai historis yang tinggi jati diri Rancaekek.

Dalam kegiatan itu hadir pula Bupati Kabupaten Bandung H. Dadang Naser, Ketua Komisi A DPRD kab. Bandung dan ketua BPNB (Badan pelestari nilai budaya) Jawa Barat, Camat Rancaekek dan segenap warga Rancaekek.

Festival Badawang oleh Rancaekek Community

Sementara itu dalam sambutan nya, ketua pelaksana kegiatan, Dani Gusnadi menyebutkanbahwa sadasawarsa RC juga sebagai momen persatuan di Rancaekek.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Bandung mengatakan bahwa festival badawang dan pemecahan rekor makan opak sebagai motivasi.

” Kabupaten Bandung akan menjadikan ini sebagai motivasi dan kepercayaan untuk berani tampil di tingkat nasional dan mancanegara.” ungkap nya.

Dalam acara ini hadir pula berbagai elem organisasi kepemudaan tingkat Rancaekek, seperti XTC, Brigez, Moonraker, GBR dan LPI.


Disturbi-apprendimento-620x350.jpg

rahmatridham20 July, 20182min46

Kemiskinan yang sesungguhnya adalah kelemahan atau ketidakberdayaan sesorang secara karakter dan mental. Seseorang yang lemah materi, tidak mudah berbuat negatif dan destruktif jika memiliki kekayaan karakter dan mental. Dengan kekayaan karakter dan mental, seseorang tentu tidak mudah tergoda apalagi menggadaikan harapan dan cita-cita bangsanya layaknya para koruptor.

Sebaliknya, seseorang dengan harta dan materi yang berkecukupan, tidak kemudian berbanding lurus dengan kaya karakter dan mentalnya (integritas), kemilau duniawi dapat menjadi tuan baginya. Integritas semacam ini, biasanya hanya selesai dibibir saja tak mengejawentahkan di laku nyatanya.

Maka dari itu, mental pragmatis kapitalis yang masih miskin nilai dengan menghalalkan segala cara sudah seharusnya diputus. Cukup sudah mental dan perilaku yang merugikan tersebut harus dihentikan, sudah saatnya menyelamatkan kepentingan khalayak ramai bukan untuk kepentingan terbatas.

Selain itu, revolusi mental yang menjadi jargon pemerintah sekarang akan lebih ampuh bila dialamatkan pada para elite yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat luas. Janganlah beban masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan diperparah dengan miskin karakter dan mental korup para pemimpinnya.

Sudah saatnya negeri ini memiliki politisi yang berkarakter negarawan, politisi yang tidak mementingkan kepentingan pribadi, golongan yang sifatnya sesaat, namun memang tanggungjawabnyalah mementingkan kepentingan masyarakat luas dan generasi yang akan datang.*

Tangerang Selatan, 201

 


640xauto-cinta-anies-baswedan-pada-pendidikan-melahirkan-indonesia-mengajar-1207040-1.jpg

rahmatridham14 July, 20184min42

Gerakan Indonesia Mengajar merupakan salah satu program pemerataan pendidikan bagi anak-anak di Nusantara, menjadi solusi atas mirisnya kondisi pendidikan di Indonesia. Hingga kini, banyak wilayah di pelosok Nusantara kekurangan pengajar, di samping terbatasnya infrastruktur sekolah. Padahal, pemerintah berkewajiban menjamin setiap anak dapat mengenyam pendidikan yang setara. Tidak terbatas demografi ataupun geografi, anak-anak di pelosok Nusantara pun katanya memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan.

Gerakan Indonesia Mengajar yang Digagas oleh Anies Rasyid Baswedan

 

Ide awal Indonesia Mengajar berasal dari Anies Baswedan. Pada dekade 1990-an, Anies adalah mahasiswa dan aktivis di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia adalah Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM dan terlibat di berbagai aktivitas kemahasiswaan. Pada masa itu, ia bergaul dan belajar banyak dari seorang mantan rektor UGM periode 1986-1990: Prof Dr Koesnadi Hardjasoemantri (Pak Koes). Pada tahun 1950an, Pak Koes menginisiasi sebuah program bernama Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yakni sebuah program untuk mengisi kekurangan guru SMA di daerah, khususnya di luar Jawa. Dalam beberapa kasus, PTM ini justru mendirikan SMA baru dan pertama di sebuah kota kabupaten. Pak Koes adalah inisiator sekaligus salah satu dari 8 orang yang menjadi angkatan pertama PTM ini. Beliau berangkat ke Kupang dan bekerja di sana selama beberapa tahun. Sepulangnya dari Kupang, ia mengajak serta 3 siswa paling cerdas untuk kuliah di UGM. Salah satunya adalah Adrianus Mooy yang di kemudian hari menjadi Gubernur Bank Indonesia. Cerita penuh nilai dari PTM inilah salah satu sumber inspirasi bagi Indonesia Mengajar.

Tinggal dan berinteraksi akan memberikan pengalaman kepemimpinan nyata dan pemahaman empatik yang tinggi bagi yang melaluinya. Inilah salah satu rujukan tumbuhnya ide Indonesia Mengajar. Gagasan untuk mendistribusikan pendidikan yang merata, rupanya disambut baik oleh para pengajar. Gerakan itu pun memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan dan pola pikir anak-anak yang tinggal di wilayah pelosok Indonesia.

“Dengan mengirim guru ke daerah-daerah di Indonesia, ternyata tak hanya mendistribusikan pendidikan, tetapi mendistribusikan masa depan bangsa,” jelas Anies. Dalam pelaksanaannya, maksud untuk mengirimkan guru-guru muda adalah agar setiap pengajar dapat memberikan metode mengajar yang lebih segar. Para guru muda pun dapat belajar menjadi pemimpin dan berkomunikasi dengan warga setempat.

Anies Baswedan berbincang dengan seorang anak pramuka yang menyambutnya saat mengunjungi Museum Diponegoro di kompleks gedung eks-Keresidenan Kedu di Kota Magelang, Jawa Tengah.

Keberhasilan lain yang didapatkan oleh pria yang turut menjadi inisiator gerakan Indonesia Mengajar itu, adalah menyakinkan para guru muda untuk datang dan mengajar ke pelosok negeri dengan penuh kebanggaan.”Ini bukan tentang uang, mereka melakukannya demi kebanggaan. Saya bilang ke mereka, jika kamu ingin perbedaan, inilah tempatnya,” ucap Anies.


kisah-dokter-yusuf-berpihak-pada-orang-miskin-dan-lingkungan.jpg

rahmatridham14 July, 20184min86

Untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas biasanya mengakibatkan seseorang harus merogoh kocek cukup dalam. Kondisi ini tentu saja memberatkan bagi warga yang kurang mampu atau tak memiliki asuransi kesehatan. Namun, di Cianjur sebuah klinik kesehatan memberikan layanan kesehatan nyaris cuma-cuma bagi warga. Nyaris cuma-cuma? Sebab, para pasien cukup memberikan 10 botol plastik bekas sebagai ganti ongkos berobat.

Dokter Yusuf Nugraha, Membuka Klinik & Apotek Harapan Sehat

Klinik Harapan Sehat di Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang didirikan dr Yusuf Nugraha pada 2008 “Masyarakat umum, bisa datang dengan membawa 10 botol minuman bekas untuk bisa berobat secara gratis,” kata Yusuf saat dihubungi Kompas.com Sabtu (12/05/2018). Yusuf memilih botol plastik bekas karena selain bisa dijual kembali sekaligus membuat masyarakat terlibat dalam membersihkan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. “Kalau sampah plastik dibuang sembarangan sangat lama terurai oleh tanah. Maka saya ingin mengajak masyarakat untuk turut serta mengurangi pemanasan global tapi dengan cara yang mudah mereka pahami,” katanya.

Program Unik

Selain membayar dengan botol bekas, Yusuf juga memiliki beberapa program unik untuk akses kesehatan gratis di kliniknya. Bagi pasien yang terbilang mampu tetap dikenakan biaya pengobatan. Namun, Yusuf memberikan keringanan biaya jika pasien tersebut membawa “dompet obat”. Dompet obat adalah program lain yang dilakukan Yusuf untuk mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik. Beginilah botol-botol plastik yang diserahkan para pasien Klinik Harapan Sehat, Cianjur, ditampung. Untuk setiap 10 botol, pasien mendapatkan satu voucher berobat gratis.(Dok. Yusuf Nugraha)

Awalnya sepi Di awal berdirinya, amat sedikit warga yang datang ke klinik ini meskipun sudah menawarkan layanan pengobatan gratis. Kondisi ini disebabkan ketidaktahuan, rasa takut, dan rasa  malu masyarakat di sekitar klinik. Setelah melakukan evaluasi, baru pada 2009 klinik ini mulai ramai dikunjungi masyarakat. “Awalnya, program yang paling banyak dipilih itu mengaji 1 juz, mayoritas warga sana kan Muslim. Baru tiga tahun terakhir program 10 botol itu sedang tinggi-tingginya,” papar pria kelahiran 1981 ini.

Botol-botol yang terkumpul kemudian dilimpahkan kepada pengepul dan hasil penjualannya digunakan untuk melakukan subsidi silang dan menutup biaya operasional klinik. Menurut dokter jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi ini, dia tidak pernah merugi dengan layanan kesehatan yang ditawarkannya. “Selama ini justru surplus, kita kalau mau berbagi tidak perlu memikirkan bagaimana-bagaimananya,” tuturnya.

Strategi dan Prestasi

Pemilihan lokasi klinik di Cianjur ini bukan tanpa alasan. Yusuf menuturkan, ia pernah tinggal di daerah tempat kliniknya berdiri saat ini dan memahami kondisi masyarakat setempat. Saat ini, Yusuf melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk bekerja bersama menggerakkan masyarakat agar lebih sadar dengan kesehatan diri dan lingkungan. “Sekarang bukan lagi jamannya Batman, Superman. Sekarang jamannya Avengers, kerja bareng-bareng,” ujar Yusuf sambil tertawa kecil. Berkat layanan kesehatan unik ini Klinik Harapan Sehat berhasil menjadi juara pertama klinik berprestasi tingkat Kabupaten Cianjur dan Provinsi Jawa Barat. Yusuf saat ini mengaku masih fokus mengembangkan kliniknya meski tetap berharap agar program gagasannya ini bisa dipraktikkan dalam wilayah yang lebih luas.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kisah Yusuf Nugraha, Dokter dengan Tarif 10 Botol Plastik Bekas”, https://regional.kompas.com/read/2018/05/12/17281071/kisah-yusuf-nugraha-dokter-dengan-tarif-10-botol-plastik-bekas?page=all.


13938496_1452547418099598_4044561318503167864_n.jpg

rahmatridham14 July, 20183min76

Memang masih banyak masyarakat yang tak bersimpati dengan aparat kepolisian. Penyebabnya pun beragam, tergantung masing-masing individu yang memiliki pengalaman atau mendengar cerita tak menyenangkan soal polisi. Tapi seharusnya itu tak menjadi penilaian bagi semua sosok aparat kepolisian yang ada di negeri ini. Buktinya masih banyak polisi yang bersih dan benar-benar menjaga niatnya untuk mengabdi kepada negara.

Salah satunya sebut saja Bripka Junaidin. Seorang anggota kepolisian Polres Bima Kota yang bertugas di Polsek Rasa Nae Barat. Di balik kesibukannya sebagai seorang aparat negara, Junaidin memiliki kebiasaan mulia, yaitu menyisihkan waktu dan gajinya untuk mendirikan serta mengajar sebuah pesantren bernama Al Fathul Ulum yang terletak di Dusun Nggela Kelurahan Jati Wangi, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pak Junaidin dan pesantren miliknya

 

Kabar ini baru banyak diketahui setelah ada Postingan pada akun facebook bernama Gufran Orez yang menyita perhatian jagat maya. Empat foto yang diunggah menceritakan seorang polisi berpangkat Bripka yang membangun ponpes menggunakan dana pribadi dari gajinya sebagai polisi. Pensantren Al Fatur Alim pada proses pembangunannya juga Junaidin tidak menggunakan jasa tukang, semua dilakukanya sendiri dengan dibantu oleh warga sekitar. Bahkan mengangkut bahan baku seperti pasir, batu dan seluruh bangunan dilakukan sendiri.

Bripka Junaidin, Anggota Polisi di Polsek RasanaE Barat, Kota Bima memang berhati mulia karena hanya dengan dana pribadinya dia membangun sebuah pondok pesantren di tempatnya bertugas.Seketika, postingan Gufran Orez mengundang banyak komentar. Hingga pukul 15.00 Wita sejak foto diunggah, sekitar 100 orang yang mengomentari. Saking hebohnya, unggahan itu telah dibagikan 519 kali dan disukai lebih dari 425 orang.

Komentar berisi pujian dan kekaguman mengalir untuk Bripka Junaidin. Kebanyakan komentar itu menyemangati Junaidin yang bertugas di Polsek rasanaE Barat, Kota Bima. ”Subhanallah…di jaman skrng ini, bs di hitung dgn jari profil (polisi) sprt bpk junaidin ini, maju terus dan semoga berkah ta,” tulis pemilik akun Ade Syuhada. Postingan Gufran Orez ini rupanya di komentari pula Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad. Dalam komentarnya, mengaku bangga punya junior seperti Junaidin. ”sy bangga punya yunior sprt dik Junaidin. Insya Allah pd suatu kunjungan kerja reses sy usaha meluangkan waktu bertandang di pesntren tsb,” tulis Farouk dalam akun facebooknya bernama Farouk Muhammad, kemarin.



Fatal error: Allowed memory size of 134217728 bytes exhausted (tried to allocate 36864 bytes) in /var/www/vhosts/suryakata.id/httpdocs/wp-includes/wp-db.php on line 1889