Sumpah Pemuda ke 89 harus jadi Api kebangkitan kader Muhammadiyah dalam kesadaran berbangsa dan Bernegara

0
56

Oleh IMMawan Ahmad Zia Khakim
Intruktur DPD IMM Jawa Tengah di Yogyakarta, 2 November 2017

Setiap proses organisasi dalam sejarah selalu beriringan dengan tumbuh kembang Manusianya itu sendiri, Manusia sesuai dengan kebutuhan hidupnya, berkembang pula tingkah laku batiniahnya dan lahirihnya, yang sudah tentu berpengaruh pula pada sesuatu yang dihadapi yaitu alam dan lingkungan sekitarnya, gejala perubahan sosial yang menjamah nilai-nilai, disebut pergeseran dan perubahan budaya, yang pada dasarnya mempengaruhi kehidupan masyarakat dan cenderung merubah tata nilai, perubahan yang berlangsung dengan frekuensi yang cepat, akhirnya dapat menyimpang dari tata nilai-nilai baru yang kadang-kadang tidak sesuai dasar yang telah dihayati bersama oleh masyarakat. Dalam kaitannya ini betapa pentingnya setiap upaya dari semua elemen melestarikan jiwa, semangat dan nilai-nilai perjuangan ‘45 agar tetap berjalan lurus dalam jalur cita-cita nasional dan idealisme bangsa Indonesia. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia memiliki tradisi sebagai bangsa pejuang, ini terlihat dari perjuangan kita yang panjang melawan penjajah, sampai akhirnya kita merebut kemerdekaan, suatu tradisi kejuangan yang sungguh membanggakan, tradisi ini tidak ada dinegara manapun hatta semangat gotong royong, termasuk jiwa-jiwa patriotisme dan kesolidan para ulama pada era dulu, rekomendasi membaca Api sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara, termasuk karya-karya monumental pendiri bangsa ini, Dibawah Bendera Revolusi oleh Ir. Soekarno, sambil menantikan demokrasi kita matang mari kita sebagai kader Muda Muhammadiyah kembali mempersiapkan diri dan mengambil banyak peran dalam berbangsa dan bernegara, kita flashback pada semangat Persatuan Sumpah Pemuda yang melampui Sekat-sekat sectarian dan memperjuangan Konsesus Nasional, pada waktu itu sangat luar biasa, kita sebagai generasi Muda harus menangkap pesan yang tersurat dan tersirat sehingga mampu kita terapkan dan kembali kita hayati serta implementasikan sesuai Konteks semangat tantangan zaman, Karena menurut kuntowijoyo dalam beberapa karyanya umat islam dan kaum Mudanya akan menjadi kekuatan penentu kemajuan dan kemunduran Peradaban bangsa Indonesia. Semangat heroisme, rasa kebangaan terhadap tanah air harus terus dirawat dan ditularkan ke golongan anak cucu kita, jangan sampai pudar di telan zaman dan waktu. Semangat 45, jiwa-jiwa patriotisme harus terus terwarisi, tradisi perjuangan, kesetiaan harus tumbuh dan beri iringan dengan majunya bangsa ini.
Kita bisa kembali menyerap energi KH. Ahmad Dahlan dengan mengunjungi makamnya bahkan kembali meneladani spirit melampui zamanya dengan betul-betul menelaah apa yang sebenarnya dilakukan KH. Ahmad Dahlan dahulu kala, pendiri Muhammadiyah yang memilih lapangan Sosial dan pendidikan sebagai medan bakti dan juangnya untuk kepentingan agama dan masyarakat, melawan kaum penjajah, karena itu tepatlah langkah yang ditempuh oleh kader Muda Muhammadiyah sebagai generasi muda Indonesia saat ini sekaligus eksponen Angkatan Muda Muhammadiyah, yang mengemban ide dan cita-cita KH. Ahmad Dahlan, untuk berperan aktif dalam melestarikan, menerapkan jiwa, semangat nilai-nilai 45, dan upaya melahirkan dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkemajuan dan berkeadaban tinggi. Sesuai dengan cita-cita persyarikatan.
Jaz merah kembali harus kita pertegas, kontinuitas organik antar generasi, yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu sejarah bukan hanya kronologi peristiwa, melainkan suatu aktualisasi ide atau cita-cita yang dilakukan oleh generasi ke generasi, generasi satu dengan generasi yang kemudian merupakan rekanan (patner) dalam mewujudkan cita-cita besar, ada kalanya lazimnya belum selesai terwujud oleh, satu, dua, tiga generasi yang sempat mengalami kurun waktu dimana ketiga generasi bersama hidup. Oleh karena itu, ditinjau dari pengertian regenerasi (patah tumbuh hilang berganti, sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti, seperti halnya surat An Nisa’ ayat 9 takutlah kamu meninggalkan generasi yang jauh lebih lemah, lemah disini penulis artikan lemah dari berbagai aspek, baik politiknya, ekonominya, daya saingnya, daya juangnya, kontribusinya, pengorbanannya, tirakatnya, dan hal-hal yang lain yang bersifat lahir maupun batin. proses kerekanan (Patnership) antara generasi kegenerasi yang masih hidup, dari generasi yang sudah meninggal, keterkaitan organik antara generasi satu dengan yang kemudian merupakan bagian integral dari kelestarian cita-cita sekaligus menjaga Eksistensi bangsa dan kemajuannya.
Proses pengisian kemerdekaan dengan pembangunan nasional yang dengan sendirinya menjangkau masa depan Indonesia, berarti mencangkup generasi yang harus dilahirkan. Makna terdalam dari kontinuitas sejarah, dan kontinuitas organik dari satu generasi ke generasi berikutnya, ialah mewujudkan cita-cita besar yang terkandung dalam pancasila dan UUD 45 oleh generasi penerus pada setiap masanya. Mari kita renungkan seluruh fenomena yang telah terjadi ditubuh bangsa kita, baik masa lalu, hingga saat ini untuk kita jadikan modal, merebut masa depan kedaulatan negeri tercinta ini.
Dalam surat Al- jatsiyah ayat 2-6 kita diundang untuk berpikir dan merenung: “Sesungguhnya dilangit dan di bumi terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang beriman. Dan pada ciptaanmu (sendiri) dan pada binatang yang ia tebarkan, Nampak (pula) ayat-ayat bagi orang yang punya keyakinan. Pun pada malam yang silih berganti dengan siang, dan pada rizki yang Allah turunkan dari langit, kemudia ia hidupkan bumi denganya sesudah mati; dan pada perkisaran angin, Nampak pula ayat-ayat bagi orang yang berpikir. Itulah ayat-ayat Allah kami bacakan kepadamu dengan benar. Maka, tesis manakah yang mereka imani selain tesis Allah dan ayat-ayat-Nya? Ayat serupa banyak terdapat didalam Al-Qur’an maka mari kita renungkan dan tadaburi bersama peristiwa ke peristiwa fenomena ke fenomena.

Referensi
-Masa depan bangsa dalam taruhan
-Politik gerakan mahasiswa indonesia